Menemukan Kejutan di Tengah Perjalanan: 8 Jam di Semarang yang Tak Terlupakan
Mengunjungi tempat baru itu selalu menyenangkan—rasanya seperti mencicipi makanan yang belum pernah kita coba sebelumnya, penuh kejutan dan rasa penasaran. Itulah yang saya rasakan ketika rencana pulang ke kampung halaman di Malang setelah mengunjungi Jakarta mendadak berubah. Tiket kereta habis, dan satu-satunya pilihan tersisa adalah rute ke Malang yang mengharuskan saya transit selama 8 jam di Semarang.
Tanpa pikir panjang, saya ambil tiket itu. Dan ternyata, di situlah pengalaman tak terduga dimulai.
![]() |
| bagian depan dari bangunan Lawang Sewu - Semarang |
Delapan jam di kota yang belum pernah saya jelajahi? Tantangan yang justru terdengar menggoda.
Bagi saya, setiap detik berharga. Tidak ada waktu yang boleh terbuang percuma, apalagi ketika berada di kota penuh cerita seperti Semarang.
Dalam waktu terbatas itu, saya berhasil mengunjungi dua destinasi ikonik yang membawa saya menyelami sejarah dan keindahan arsitektur kolonial: Lawang Sewu dan Kota Lama Semarang.
Perhentian pertama saya adalah Lawang Sewu—sebuah bangunan megah yang menjadi simbol Kota Semarang. Namanya berarti “seribu pintu”, dan benar saja, bangunan ini dipenuhi deretan pintu dan jendela tinggi menjulang, khas arsitektur Belanda. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada 1907, Lawang Sewu dulunya adalah kantor dari NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij), perusahaan kereta api milik Belanda.
Namun, kemegahannya juga menyimpan sisi kelam sejarah. Saat masa pendudukan Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi markas tentara Jepang, dan ruang bawah tanahnya menjadi saksi bisu tempat penyiksaan warga pribumi dan tawanan. Di sinilah perlawanan para pemuda kereta api terhadap Kempetai dan Kidobutai terjadi—sebuah kisah heroik yang masih terasa auranya hingga kini.
Kalau kamu hanya punya beberapa jam di kota asing, apa yang akan kamu lakukan?
Kalau saya, akan saya maksimalkan untuk menjelajah, karena seringkali, momen yang paling berkesan datang dari kejadian yang tak direncanakan.
Menuju Lawang Sewu: Perjalanan Singkat Penuh Cerita dari Stasiun Poncol
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam dari Jakarta, akhirnya saya tiba di Stasiun Kereta Api Poncol, Semarang. Begitu turun dari kereta, tujuan pertama saya tentu saja Lawang Sewu, ikon sejarah yang sudah sejak lama ada dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi.
Saya langsung memesan ojek online (Gojek) dengan tarif yang sangat ramah di kantong—hanya Rp8.000 dari stasiun ke Lawang Sewu. Tapi ada sedikit tips penting buat kamu yang juga ingin pesan ojek online: hindari memesan langsung di area stasiun, karena kadang-kadang bisa memicu konflik dengan pengemudi ojek konvensional yang merasa “lahan” mereka diambil.
Solusinya? Saya berjalan kaki sedikit ke luar stasiun, belok kanan menuju deretan ruko-ruko. Di sana ada minimarket—tempat yang cukup nyaman dan aman untuk memesan Gojek. Sambil nunggu, kamu bisa beli minuman dingin, recharge energi sebentar sebelum melanjutkan petualangan.
![]() |
| bagian luar dari bangunan Lawang Sewu - semarang dari sisi lain |
Akses Menuju Lawang Sewu
Lokasi Lawang Sewu ini cukup strategis, dekat dengan kawasan Simpang Lima Semarang, jadi gampang diakses dari mana saja. Berikut beberapa opsi transportasi menuju ke sana:
-
Dari Bandara Ahmad Yani
Kamu bisa naik taksi online atau ojek online, sangat praktis dan cepat. -
Dari Stasiun Poncol (seperti saya)
Pilihannya bisa pakai ojek online atau naik becak tradisional kalau kamu ingin merasakan pengalaman lokal yang unik. -
Dari Terminal Bus Terboyo
Naik bus Damri atau angkutan kota yang melewati Jalan Pemuda, lokasi di mana Lawang Sewu berada. Tarif angkot di Semarang cukup terjangkau, sekitar Rp4.000 saja.
Jam Operasional & Tiket Masuk Lawang Sewu
Lawang Sewu buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi hingga 21.00 malam. Harga tiketnya pun sangat bersahabat:
-
Anak-anak & pelajar: Rp5.000
-
Dewasa: Rp10.000
-
Ingin menjelajah ruang bawah tanah? Tambah biaya Rp30.000, dan kalau kamu ingin lebih aman (dan tidak tersesat), kamu bisa menyewa jasa pemandu wisata seharga Rp30.000.
Perjalanan singkat tapi bermakna ini membuktikan bahwa dalam waktu terbatas pun, kita bisa mendapatkan pengalaman yang berkesan—asal tahu caranya dan siap menikmati setiap momennya.
Kalau kamu tertarik menjelajah Semarang, Lawang Sewu bisa jadi pintu pertama yang membuka banyak cerita seru di kota penuh sejarah ini.
![]() |
| bangunan merah khas kolonial yang masih terawat dengan baik. |
Misteri dan Eksplorasi di Kota Semarang: Dari Lawang Sewu ke Kota Lama
Seperti yang sering kita dengar, bangunan tua dan bersejarah kerap menyimpan kisah misteri dan aura yang berbeda—seolah dinding-dindingnya berbisik tentang masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Begitu pula dengan dua bangunan ikonik di Semarang, yang tak hanya menyimpan sejarah, tapi juga menyelimuti pengunjungnya dengan nuansa masa lalu yang memikat.
Setelah tiga jam menjelajahi megah dan misteriusnya Lawang Sewu, saya merasa belum cukup. Rasa penasaran membawa saya ke destinasi berikutnya: Kota Lama Semarang, kawasan yang sering dijuluki "Little Netherlands"-nya Indonesia karena arsitekturnya yang khas era kolonial.
Untuk menuju ke sana, saya kembali menggunakan ojek online. Tarifnya sedikit lebih mahal, sekitar Rp12.000, karena jaraknya memang lebih jauh dibanding dari Stasiun Poncol ke Lawang Sewu. Tapi dengan pemandangan kota dan semilir angin sore, perjalanan singkat itu tetap menyenangkan.
Sayangnya, saat saya tiba di Kota Lama, suasananya tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata kawasan ini masih dalam proses renovasi—jalanannya dipenuhi pasir, semen, dan alat-alat konstruksi. Banyak area yang ditutup dan tidak bisa dieksplorasi secara maksimal. Meski agak kecewa, saya tetap senang bisa melihat langsung wujud asli bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh di tengah perubahan zaman.
Kadang, perjalanan tak selalu berjalan mulus, tapi justru di situlah cerita menarik dimulai. Kota Lama mungkin belum siap menyambut sepenuhnya saat itu, tapi saya yakin—di kunjungan berikutnya, ia akan tampil dalam wujud terbaiknya, penuh warna dan cerita yang lebih utuh.
![]() |
| gereja tua peninggalan kolonial Belanda |
| salah satu spot foto di Museum 3D yang bertemakan musik |
Menutup Petualangan Singkat di Semarang: Kota Lama, Museum 3D, dan Kembali ke Rel Perjalanan
Waktu terus berjalan, tapi semangat saya untuk menjelajah belum juga padam. Setelah puas mengeksplorasi kawasan Kota Lama Semarang—meskipun sebagian masih dalam renovasi—saya melanjutkan langkah kaki ke destinasi menarik lainnya di sekitar sana, yaitu Museum 3D Semarang. Perpaduan antara nuansa sejarah dan sentuhan seni modern ini memberi warna baru dalam petualangan saya hari itu.
Total waktu yang saya habiskan di kawasan ini sekitar 4 jam penuh, berkeliling, berfoto, dan tentu saja menikmati suasana khas kota tua yang memikat. Rasanya seperti masuk ke dalam dua dunia sekaligus—masa lalu yang klasik dan masa kini yang kreatif.
Menjelang sore, saya memutuskan untuk kembali ke Stasiun Kereta Api Poncol. Seperti sebelumnya, saya menggunakan ojek online yang lagi-lagi menjadi penyelamat perjalanan singkat ini. Waktu tempuhnya sekitar 20 hingga 30 menit, cukup untuk menikmati pemandangan kota Semarang menjelang senja dari balik helm dan angin sore yang sejuk.
Sesampainya di stasiun, saya merasa campur aduk—antara puas, lelah, dan antusias karena petualangan ini benar-benar tak terduga namun sangat menyenangkan. Saya pun siap melanjutkan perjalanan panjang menuju Kota Malang, dengan hati yang penuh cerita dan memori dari kota transit yang ternyata punya begitu banyak kejutan.
![]() |
| salah satu spot foto di Museum 3D dengan tema rumah terbalik. |





Komentar